Generasi Muda Yang Bahagia, Tangguh dan Sehat Jiwa Menghadapi Perubahan Dunia

Hari Kesehatan Jiwa Se-dunia (HKJS) diperingati setiap tanggal 10 Oktober. Dalam rangka peringatan HKJS Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA (P2MKJN) Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit  (Ditjen P2P) menyelenggarakan salah satu rangkaian kegiatan yaitu Temu Media yang berlangsung di Kantor Kemenkes RI Jakarta, pada (2/10).

Hadir sebagai narasumber antara lain Dirjen P2P, dr. Anung Sugihantono, M.Kes; Direktur P2MKJN, Dr. dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH; Ketua Ikatan Psikologi Klinis Indonesia, DR. Indria Laksmi Gamayanti,  M.Si; dan Ketua PDSKJI Pusat, dr. Eka Viora, Sp.KJ.

Peringatan HKJS tahun ini yang mengambil tema “Generasi Muda Yang Bahagia, Tangguh dan Sehat Jiwa Menghadapi Perubahan Dunia”  bertujuan untuk meningkatkan kesadaran seluruh warga dunia akan pentingnya kesehatan jiwa dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat baik fisik maupun jiwanya. Tahun ini World Federation of Mental Health (WFMH) menetapkan fokus perayaan HKJS pada generasi muda dan dampak dari perubahan dunia pada generasi muda.

Generasi muda di era milenial ini menghabiskan lebih banyak waktu mereka di internet (dunia maya). Hal ini akan menyebabkan mereka lebih rentan mengalami kejahatan cyber, cyber builying atau bahkan kecanduan video game yang bertema kekerasan.

Terkait data bullying di sekolah, didapatkan data bahwa 84% siswa mengaku pernah mengalami kekerasan disekolah; 45% siswa laki-laki menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan; 40% siswa usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh teman sebaya; 75% siswa mengakui pernah melakukan kekerasan di sekolah; 22% siswa perempuan menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan; dan 50% anak melaporkan mengalami perundungan (Bullying) di sekolah.

Keluarga yang tidak memahami tantangan tersebut, kadang gagal memberikan pendampingan dan arahan bagi remaja tersebut. Remaja yang gagal dalam menjawab tantangan zaman tersebut, berada dalam bahaya yang cukup mengkhawatirkan, yaitu kemungkinan mengalami masalah kesehatan jiwa yang jika tidak dapat di deteksi dan ditangani secara dini dapat meningkatkan resiko timbulnya gangguan jiwa di kemudian hari.

Gangguan mental emosional adalah masalah yang cukup besar di Indonesia. Masalah pikiran, perasaan dan perilaku yang dapat membuat kesulitan menjalani peran dan kehidupan sehari-hari (kesulitan tidur, ketegangan sebagian besar tubuh, kurangnya semangat, berkurangnya energi dan tidak adanya minat kepada kesenangan). Masalah ini terkesan tidak berat akan tetapi dapat memburuk seiring perberatan gejala. Gejala ini hendaknya disadari sedini mungkin dan dikelola dengan tepat agar tidak memberat dan menggangu aktivitas sehari-hari.

Untuk itu, mari bersama-sama melalui Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini mendorong keluarga untuk lebih memperhatikan dan mendampingi remaja, memberikan arahan dan menjadikan keluarga sebagai tempat yang hangat bagi pertumbuhan fisik dan jiwa mereka.

Melalui Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini juga mari kita kampanyekan Gerakan Masyarakat Untuk Hidup Sehat (GERMAS), sehingga kita dapat mengharapkan tumbuhnya generasi penerus yang sehat baik secara fisik, jiwa dan sosial.