Webinar Series Pengobatan TBC RO, Kini Sembuh Lebih Cepat

Jakarta (20/3), Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular bersama Yayasan KNCV Indonesia, mengadakan webinar series dalam rangka Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia Tahun 2024 yang mengambil tema: “Pengobatan TBC RO, Kini Sembuh Lebih Cepat”, bertempat di hotel Manhattan Jakarta. Kegiatan dilakukan dengan metode dialog interaktif dimana terdapat 2 sesi yang dipandu oleh moderator dari Health Influencer.


Pada kesempatan ini, Direktur Jenderal P2P Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS memberikan Keynote Speech bahwa untuk mencapai eliminasi TBC Indonesia tahun 2030 diperlukan upaya dan inovasi yang dilakukan bukan hanya oleh Kemenkes tetapi juga bersama dengan semua pemangku kepentingan. Secara khusus, salah satu inovasi terbaru adalah sudah tersedianya paduan pengobatan TBC RO baru yang berdurasi 6 bulan, dari sebelumnya pengobatan bisa lebih dari 1 tahun. Indonesia mendapatkan penghargaan karena menjadi salah 1 negara pertama dengan beban TBC tertinggi yang menyediakan pengobatan TBC RO berdurasi 6 bulan yaitu paduan BPaL/M secara program untuk secara nasional, dimulai tahun 2024.

.

Pada sesi 1 paparan disampaikan oleh Direktur P2PM dr. Imran Pambudi, MPHM dan Tim Ahli Klinis TBC RO dr. Thomas Handoyo SpPD (K), FINASIM. Dr. Imran Pambudi, pada paparannya menyampaikan bahwa saat ini, Indonesia berada di peringkat kedua tertinggi setelah India dengan perkiraan beban kasus TBC baru mencapai 1.060.000 per tahunnya (Global TB Report 2023). Meskipun mengalami tantangan dan perjuangan, Indonesia telah melakukan upaya yang signifikan dalam memberantas TBC. Beliau pun menegaskan “Pada tahun 2023, kita berhasil mencatat notifikasi penemuan kasus TBC tertinggi dalam sejarah eliminasi TBC Indonesia yaitu 77% dari angka estimasi. Capaian penemuan kasus TBC RO tahun 2023 yaitu sekitar 75%. Angka yang memulai pengobatan TBC RO tahun 2023 yaitu 8.714. Masih terdapat berbagai tantangan dalam penanganan kasus TBC RO. Saat ini sudah terdapat 175 puskesmas yang dapat menginisiasi pengobatan TBC RO di Indonesia. Mulai tahun 2024 paduan pengobatan baru TBC RO berdurasi 6 bulan ini sudah dapat diakses di 38 provinsi; hingga saat ini, 666 pasien TBC RO telah memulai pengobatan dengan paduan BPaL/M”.
Dr. Thomas Handoyo, menyampaikan bahwa perkembangan manajemen TBC RO di tingkat global terjadi dengan sangat cepat, baik dalam hal metode diagnostik dan pengobatan. Implementasi paduan BPaL/M di Indonesia diawali dengan riset operasional BPaL pada bulan Juli 2022 sampai Juni 2023. BPaL maupun BPaLM merupakan pilihan yang lebih disukai sebagian besar pasien karena durasi pengobatan yang jauh lebih singkat dan jumlah obat yang jauh lebih sedikit dibandingkan paduan pengobatan TBC RO sebelumnya, dengan efek samping yang dapat ditangani. Oleh karena itu, monitoring efek samping obat (MESO) juga harus dijalankan dengan baik oleh seluruh fasyankes layanan TBC RO.

Pada sesi 2 webinar ini mendatangkan narasumber dari penyintas TBC RO yang telah sembuh setelah mendapatkan pengobatan dengan BPaL/M yaitu Yasmine Syahrani serta komunitas pendamping pasien TBC RO dari RSUP Persahabatan yaitu Nana Rohmana. Ibu Yasmine menyampaikan sangat bersyukur dapat sembuh dari TBC RO dengan adanya paduan pengobatan TBC RO baru hanya 6 bulan ini, karena selain waktu pengobatan yang lebih pendek juga jumlah obat lebih sedikit dan efek samping yang lebih ringan dibandingkan sebelumnya Ketika mendapatkan pengobatan TBC RO yang jangka panjang. Selain itu, ibu Nana dari Yayasan PETA yang selalu setia mendampingi pasien TBC RO di DKI Jakarta menyerukan kepada Kemenkes dan seluruh pemangku kepentingan agar pengobatan TBC RO baru ini dapat tersedia di seluruh fasyankes di Indonesia sehingga pasien TBC RO mendapatkan akses yang merata terhadap pengobatan selama 6 bulan dengan BPaL/M.

Pada kesempatan ini, diluncurkan Kampanye Paduan Pengobatan Baru TBC RO Berdurasi 6 bulan dengan tema “Sembuh Lebih Cepat”. Tema ini diangkat untuk menyebarluaskan informasi tentang pengobatan baru TBC RO berdurasi 6 bulan dengan paduan BPaL/M, serta untuk memastikan semua orang dengan TBC RO memiliki akses terhadap pengobatan yang efektif dan berkualitas. Kampanye ini ditujukan untuk tenaga kesehatan, komunitas terdampak TBC RO, masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan yang bergerak dalam penanggulangan TBC. Eliminasi TBC merupakan tanggung jawab kita bersama sehingga sangat dibutuhkan peran aktif dan dukungan dari semua pihak. Semoga webinar yang telah diikuti oleh lebih dari 15.000 peserta ini membawa manfaat bagi semua peserta. (SSH/NDA)

Kementerian Kesehatan tidak menerima suap dan/atau gratifikasi dalam bentuk apapun. Jika terdapat potensi suap atau gratifikasi silahkan laporkan melalui HALO KEMENKES 1500567 dan https://wbs.kemkes.go.id

Berita Terkait lainnya >

Posting Terbaru >