Simulasi Penanggulangan Penyakit Berpotensi Wabah di Perbatasan Motaain Indonesia – Timor Leste

Nusa Tenggara Timur, 15 Mei 2024

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) bekerjasama dengan Lakespra Saryanto TNI AU serta lintas sektor, lintas program terkait lainnya di Kabupaten Belu dan Provinsi Nusa Tenggara Timur menyelenggarakan Kegiatan Simulasi Penanggulangan Penyakit Berpotensi Wabah di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain Indonesia – Timor Leste, pada Rabu (15/5/2024).

Kegiatan simulasi ini merupakan suatu bentuk uji Rencana Kontinjensi yang telah dipersiapkan. Tepat dan efektifnya suatu Rencana Kontijensi Kedaruratan Kesehatan hanya dapat diketahui dengan menerapkannya dalam kejadian sebenarnya atau dengan mengujinya dalam table top exercise maupun simulasi lapangan.

“Rencana Kontijensi hanya dapat diterapkan dengan baik, bila seluruh jajaran terkait dan segenap lapisan masyarakat, termasuk kalangan swasta serta pelaku usaha turut berperanserta dan bekerjasama dengan baik. Pelaksanaan Simulasi Lapangan Penanggulangan Penyakit Berpotensi Wabah ini merupakan bagian dan perwujudan dari pilar ke-3 Ketahanan Kesehatan,” ujar Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan dr. Achmad Farchanny Tri Adryanto, MKM membacakan sambutan Direktur Jenderal P2P) saat menjadi Inspektur Apel Simulasi.

Kementerian Kesehatan terus membenahi diri dengan melakukan transformasi di semua lini, dimana ada 6 (enam) pilar transformasi kesehatan, yaitu transformasi layanan primer, transformasi layanan rujukan, transformasi sistem ketahanan kesehatan, transformasi sistem pembiayaan kesehatan, transformasi SDM kesehatan, dan transformasi teknologi kesehatan. Selain itu terdapat juga satu pilar yang sangat penting untuk mendukung 6 pilar utama, yaitu transformasi internal.

Kegiatan simulasi ini juga merupakan wujud pelaksanaan UU Kesehatan nomor 17 tahun 2023 yang mengamanatkan pintu masuk dan wilayah memiliki kapasitas dan kesiapsiagaan dalam penanggulangan wabah, dan wujud penerapan International Health Regulation (IHR) 2005 yang mengamanatkan core capacities setiap negara dalam prevent, detect, dan respond terhadap seluruh ancaman kedaruratan kesehatan masyarakat, ungkapnya.

Ancaman pandemi belum usai, setelah COVID-19 kita akan dihadapkan dengan ancaman penyakit – penyakit infeksi emerging lainnya, baik new maupun re-emerging infectious disease, yang sewaktu – waktu dapat menimbulkan wabah, seperti Influenza, SARS – CoV, Meningitis meningokokus, Ebola, Poliomyelitis, Yellow Fever, maupun Kolera.

Dalam sambutannya Dirjen P2P mengajak untuk saling bahu membahu, melengkapi, berkoordinasi, dan bekerjasama dengan sebaik – baiknya dalam mewujudkan Kabupaten Belu yang siapsiaga dalam Penanggulangan Wabah ataupun Kedaruratan Kesehatan Masyarakat.

“Kita perlu waspada dan bersiap diri terhadap ancaman atau risiko penularan penyakit dan faktor risiko kesehatan yang berpotensi menimbulkan wabah/kedaruratan kesehatan masyarakat yang dapat menjadi Public Health Emergency of International Concern (PHEIC),” ujarnya.

Bupati Kabupaten Belu dr. Agustinus Taolin, SpPD-KGEH, FINASIM dikesempatannya mengatakan simulasi ini merupakan salah satu penguatan surveilans yang dilakukan di pintu masuk negara. Potensi terjadinya wabah penyakit tidak bisa dihindari, semakin terbukanya transportasi dan perubahan lingkungan sangat memungkinkan terjadinya mutasi virus yang menimbulkan berbagai penyakit. Namun dengan kesiapsiagaan, semua itu dapat diatasi dengan baik.

“Semoga dengan adanya simulasi ini, Kabupaten Belu dapat lebih siap dalam menghadapi ancaman yang terjadi, yang tentu saja ancaman ini tidak kita harapkan akan terjadi namun jika terjadi kita telah siap dalam mengantisipasinya,” ujar Bupati Belu Agustinus Taolin

Bupati Belu juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kementerian Kesehatan RI atas pelaksanaan kegiatan Simulasi Penanggulangan Penyakit Berpotensi Wabah di Kabupaten Belu.

“Kegiatan simulasi ini diharapkan dapat memberikan keyakinan kepada masyarakat dan wisatawan yang akan berkunjung ke Belu bahwa Kabupaten ini aman dan nyaman untuk dikunjungi,” tutup Bupati Belu. (ADT/CRP)

Kementerian Kesehatan tidak menerima suap dan/atau gratifikasi dalam bentuk apapun. Jika terdapat potensi suap atau gratifikasi silahkan laporkan melalui HALO KEMENKES 1500567 dan https://wbs.kemkes.go.id

Berita Terkait lainnya >

Posting Terbaru >