RSUD dr. Hasri Ainun Habibie Gorontalo Berkontribusi dengan Layanan TBC

Masalah TBC merupakan tantangan bagi kita dan seluruh masyarakat dunia. Berdasarkan global report WHO 2023, Indonesia merupakan penyumbang kasus tertinggi kedua setelah India dengan estimasi 1.060.000 kasus atau 10% kasus di dunia.  Indonesia, salah satu dari 8 negara dengan estimasi insiden TB RR/MDR tertinggi tahun 2022. Delapan puluh persen kasus baru terkonfirmasi RR dan sebanyak 66% kasus pasien pengobatan sebelumnya terkonfirmasi RR. Sejak dilakukan perluasan ketersediaan alat tes cepat molekular (TCM) sebagai alat diagnosis utama TBC pada tahun 2017, terjadi peningkatan angka temuan kasus TBC RO yang signifikan secara nasional. Namun, belum seimbang dibandingkan dengan proporsi pasien TBC RO yang diobati dan keberhasilannya pengobatannya. Dari seluruh pasien yang terkonfirmasi pada tahun 2021 hanya sebesar 61% pasien memulai pengobatan, 65% di tahun 2022 dan 68% di tahun 2023. Angka keberhasilan pengobatan tahun 2021, 2022, 2023 adalah 46%, 51% dan 55% sementara target 80%.

Teknologi pemeriksaan TCM TBC terus berkembang seiring waktu. TCM Xpert MTB/XDR dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi resistansi INH, obat lini dua golongan fluorokuinolon, obat injeksi lini dua dan ethionamid secara bersamaan. Kehadiran teknologi katrid TCM Xpert MTB/XDR mengurangi ketergantungan terhadap pemeriksaan line probe assay (LPA) yang masih sangat terbatas jumlah laboratorium rujukannya (saat ini terdapat 7 laboratorium LPA di 6 provinsi). 

Pada Tanggal (12/2) RSUD dr. Hasri Ainun Habibie meresmikan memberikan layanan pengobatan pasien TBC RO bagi masyarakat sekitar Provinsi Gorontalo, Maxi Rondonuwu sebagai Direktur Jenderal Ditjen P2P Berkata, “Saya Berterima Kasih atas RSUD dr. Hasri Ainun Habibie dan berharap penemuan kasus TBC RO di Provinsi Gorontalo dapat melampaui target pada tahun ini dan juga tahun-tahun mendatang, kemudian seluruh pasien TBC RO dapat segera diobati”. Kualitas layanan TBC RO harus selalu ditingkatkan, demikian juga peran PMO dalam pendampingan pengobatan perlu dikuatkan sehingga seluruh pasien dapat menyelesaikan pengobatan hingga lengkap dan sembuh.

Keberhasilan pengobatan TBC RO bertumpu pada harmonisasi manajemen klinis dan manajemen program dalam penangangan pasien TBC RO. Layanan pengobatan TBC RO harus diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan, melalui mini cohort, audit klinis, mentoring klinis dan MICA; sehingga dapat  memantau pada setiap tingkat layanan yang terlibat dalam pengobatan pasien TB RO. Komunikasi edukasi, pendampingan psikososial oleh tenaga kesehatan dan komunitas sejak tegak diagnosis, sangat berarti bagi para pasien TBC RO yang diharapkan dapat memunculkan rasa dimengerti pada pasien sebagai dasar dorongan diri untuk sembuh.  Pasien TBC semakin berdaya menjalankan proses pengobatan sehingga dapat menurunkan angka kejadian putus pengobatan. (CRP/ING)

Kementerian Kesehatan tidak menerima suap dan/atau gratifikasi dalam bentuk apapun. Jika terdapat potensi suap atau gratifikasi silahkan laporkan melalui HALO KEMENKES 1500567 dan https://wbs.kemkes.go.id

Berita Terkait lainnya >

Posting Terbaru >