Penguatan Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan untuk Capai Indikator Program

Saat ini Kemenkes berkomitmen melaksanakan 6 pilar transformasi sistem kesehatan dan memberikan perhatian khusus pada berbagai aspek, termasuk  mengutamakan upaya  promotif – preventif. Pilar ketiga yaitu transformasi sistem ketahanan kesehatan menjadi landasan untuk penyelenggaran surveilans yang optimal dan memperkuat ketahanan tanggap darurat dengan membangun jejaring nasional surveilans berbasis laboratorium baik terhadap penyakit dan faktor risiko, menyediakan tenaga cadangan yang tanggap darurat, serta table top exercise kesiapsiagaan krisis.  

Sebagai landasan penyelenggaraan surveilans dapat berjalan optimal, pencapaian indikator program di daerah dan implementasi Pilar ketiga Transformasi sistem ketahanan kesehatan, maka pada 25 September 2023, Direktur Jenderal P2P yang diwakilkan oleh Direktur Surkarkes,  dr. Achmad Farchanny Tri Adryanto, MKM membuka pertemuan pembahasan Indikator Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan di Bekasi.

Pembelajaran dari 3 tahun pandemi COVID-19, menunjukkan perlunya penguatan kapasitas surveilans dalam melakukan deteksi dini timbulnya suatu penyakit baru serta mendeteksi kenaikan tren kasus penyakit dengan konfirmasi laboratorium.

Status endemi COVID-19 saat ini, bukan berarti COVID-19 telah hilang, melainkan berada dalam situasi yang terkendali, meski masih ada kemungkinan munculnya varian-varian baru yang berpotensi menyebabkan peningkatan kasus dan kematian, karena virus masih bersirkulasi. Oleh karena itu kewaspadaan dan kesiapsiagaan perlu dijaga dengan memperkuat kapasitas surveilans berbasis laboratorium baik di pintu masuk negara maupun di wilayah.

Dengan meningkatkan surveilans aktif dan pasif yaitu pengawasan dan pemeriksaan terhadap pelaku perjalanan yang menunjukkan gejala infeksi saluran pernapasan akut (ILI) di Pintu Masuk Negara, pelaksanaan surveilans sentinel ILI-SARI, surveilans sentinel sindromik, surveilans berbasis masyarakat dan meningkatkan testing PCR pada kasus tersangka yang berobat ke fasyankes, untuk selanjutnya dilakukan sekuensing genomik, sehingga dapat memantau secara berkala tren karakteristik epidemiologi dan virologi SARS-CoV-2.

Dalam sambutan Dirjen menyampaikan langkah dan upaya yang sinergis melalui komunikasi, koordinasi dan kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat penting dalam mencapai semua target RPJMN Bidang Kesehatan dan Renstra Kemenkes tahun 2020-2024. Capaian indicator RPJMN tahun ini masih 61% dari target 80%. capaian ISS sampai September 2023 sebesar 77,43% dari target 80%. Capaian IKP Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan baru tercapai 19,46% dari target sebanyak 30% dimana capaian indikator tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan.

Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini di Distrik Kozhikode, Negara Bagian Kerala, India telah terjadi kasus outbreak kasus Nipah virus di dimana history outbreak sebelumnya terjadi di beberapa negara seperti Bangladesh, Flipina, Malaysia dan Singapura. Penyakit yang merupakan zoonosis disease ini membutuhkan surveilans terintegrasi lintas program lintas sektor dengan pendekatan One Health. Tambahnya

Terdapat upaya yang telah kita lakukan yaitu pemantauan informasi cepat global dan regional berkoordinasi dengan WHO, ABVC Indonesia dan Kemkes India. Saat ini pedoman penanggulangan Nipah Virus dan media KIE telah disusun, serta update situasi penyakit infeksi emerging negara-negara terjangkit, dan menerbitkan Surat Edaran kewaspadaan dini terhadap kasus Nipah virus, dan Rapid Risk Assesment.

Dirjen menghimbau agar KKP selalu meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, awak dan personel, alat angkut, barang, lingkungan, vektor dan Binatang pembawa penyakit di pintu masuk negara seperti bandara, Pelabuhan, dan pos lintas batas negara, terutama dari negara terjangkit dan meningkatkan pemantauan kasus sindrom demam akut disertai gejala pernapasan akut atau kejang atau penurunan kesadaran dan memiliki Riwayat perjalanan dari negara terjangkit, serta melaporkan segera pada SKDR.

Untuk Dinas Kesehatan agar meningkatkan kewaspadaan dini dengan memantau tren kasus ILI/SARI/ensefalitis dengan pemanfaatan SKDR secara optimal dan memantau perkembangan kasus dan negara terjangkit di tingkat global melalui kanal resmi kemenkes, serta  penguatan laboratorium surveilans dalam kapasitas konfirmasi pemeriksaan penyakit- penyakit infeksi new emerging serta penyiapan rumah sakit rujukan PIE sebagai bentuk kewaspadaan.

Wilayah yang capaiannya masih rendah dapat memanfaatkan momen ini untuk berbagi pengalaman antar Provinsi/ Kabupaten/ Kota terutama provinsi/kabupaten/kota yang capaian indikatornya tinggi, dan mendapatkan  informasi atapun masukan tentang upaya strategis dari para narasumber dan fasilitator sehingga dapat mencapai target-target yang telah ditetapkan sampai dengan tahun 2024. (nda)

Kementerian Kesehatan tidak menerima suap dan/atau gratifikasi dalam bentuk apapun. Jika terdapat potensi suap atau gratifikasi silahkan laporkan melalui HALO KEMENKES 1500567 dan https://wbs.kemkes.go.id

Berita Terkait lainnya >

Posting Terbaru >