Orientasi Program Penanggulangan PISP

Data UNICEF menunjukan diare menyumbang sekitar 9 persen dari seluruh kematian anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia pada tahun 2021. Hal ini pun berarti dari 1.200 balita meninggal setiap hari, atau 444.000 anak per tahun, meskipun tersedia solusi pengobatan sederhana yang mudah dilakukan. Melihat data profil Kesehatan Indonesia 2022 menunjukan diare sebagai penyebab kematian ke-2 yang diketahui pada balita (12-59 bulan) dengan proporsi 5,8% di bawah pneumonia (12,5%). Hasil survei status gizi Indonesia tahun 2022 (SSGI 2022) menunjukan pravalensi diare pada balita di Indonesia sebesar 10,2% naik dari hasil SSGI 2021 sebesar 9,8%. Sementara ini, dari hasil survei Kesehatan Indonesia 2023 (SKI 2023) prevalensi diare pada bayi seumur kurang 1 tahun 6,4%, pada balita 1 sampai 4 tahun 7,4% dan pada semua umur 4,3%. Dari hasil tersebut terjadi penurunan pravalensi diare pada bayi, balita dan semua umur, hasil SKI 2023 dibandingkan dengan hasil riset Kesehatan dasar tahun 2018 yang berturut-turut sebesar 10,6%, 12,3% dan 8%.

Bali (28/05), Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendelaian Penyakit Menular (P2PM) mengadakan Pertemuan On The Job Training (OJT) Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan (PISP) secara daring dan luring. Peserta yang mengikuti luring adalah Pengelola Program PISP dari 38 Provinsi berikut peserta daring yang mengikuti adalah Pengelola Program PISP di seluruh kabupaten seindonesia dan fasyankes diseluruh Indonesia. Tujuan Kegiatan ini adalah menyampaikan manajeman program penyakit diare yang termasuk diare rotavirus didalamnya kolera, disentri, devoid dan hepatitis A yang disatukan sebagai petunjuk teknis penangulangan PISP. PISP ini adalah Petunjuk Teknis (Juknis) pertama yang akan menjadi acuan pengelolaan dan pelaksanaan program Kesehatan, selain menyampaikan manajeman program penanggulangan PISP, ada narasumber dari klinis ahli PISP dan akan ada pembahasan tatalaksanan Manajeman Terpadu Balita Sakit (MTBS) oleh narasumber dari Gizi KIA

Acara tersebut diresmi oleh dr.Imran Pambudi, MPHM selaku Direktur P2PM melalui daring dan kegiatan ini pun dilaporkan oleh Ketua Tim Kerja Hepatitis dan PISP, dr. Ratna Budi Hapsari, M.K.M melalui luring. Ketua tim kerja melaporkan ke Direktur P2PM, bahwa selama kegiatan event OJT ini, tim kerja mengadakan Pojok Konsultasi agar teman-teman program lebih mudah berkonsultasi mengenai pemanfaatan HBG tahun 2024, pojok kosultasi ini dibuka selama acara OJT berlangsung. “Dalam kesempatan ini juga mengharapkan untuk teman-teman dari fasilitas Kesehatan maupun dikota ataupun didaerah pedesaan agar bisa menginvestigasi terjadinya perubahan penyakit pada teknologi ini”, ujar dr. Imran Pambudi.

Kegiatan ini terkait tatalaksana melalui manajemen kasus yang efektif dan manajemen program PISP sehingga mampu untuk mendekteksi dan mengendalikan PISP sedini mungkin serta memperkuat kapasitas tanggap darurat terhadap PISP, agar bisa meningkatkan kemampuan petugas PISP. (CRP)

Kementerian Kesehatan tidak menerima suap dan/atau gratifikasi dalam bentuk apapun. Jika terdapat potensi suap atau gratifikasi silahkan laporkan melalui HALO KEMENKES 1500567 dan https://wbs.kemkes.go.id

Berita Terkait lainnya >

Posting Terbaru >