Koordinasi GKIA dan P2PM Solusi Jawaban Menghadapi Tantangan Bidang GKIA dan P2PM Tahun 2023

Pada (1/3) Ditjen P2P menyelenggarakan Pertemuan Koordinasi Gizi-KIA dan P2PM di Bogor, Jawa Barat. Direktur P2PM, dr. Imran Pambudi, MPHM, selaku ketua panitia mengatakan bahwa pertemuan ini merupakan koordinasi antara program GKIA dengan P2PM, dimana salah satunya bertujuan untuk sinkronisasi sasaran program KIA dengan Triple eliminasi, malaria dalam kehamilan, diare dan pneumonia. Adapun peserta pertemuan terdiri dari lintas program/sektor di Kementerian Kesehatan yang berjumlah 160 orang (luring) dan 2750 orang (daring), dengan narasumber berasal dari seluruh Direktur di lingkungan Ditjen Kesmas, Ditjen Yankes, dan Ditjen P2P Kementerian Kesehatan.

Pertemuan dibuka oleh Dirjen P2P, Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS didampingi Dirjen Kesmas, dr. Maria Endang Sumiwi, MPH secara daring.

Dalam sambutan Dirjen menyampaikan bahwa penyakit menular merupakan salah penyebab utama morbiditas, mortalitas dan disabilitas manusia di seluruh dunia. Terutama di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Sebagian penyakit menular berpotensi menimbulkan KLB/ wabah dan dapat menyebar dengan cepat serta meluas jika tidak dikendalikan dengan baik.

Penyakit menular dapat menyerang setiap orang di sepanjang siklus hidupnya dari masa bayi, anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia. Pada setiap tahap kehidupan tersebut, setiap orang mempunyai risiko berbeda untuk terserang penyakit menular tertentu. Termasuk adanya faktor lingkungan, gaya hidup, pelayanan kesehatan, keturunan, dan faktor lain, seperti status imunisasi dan status gizi. Tambahnya  

Dirjen juga menekankan bahwa pemberian imunisasi sesuai jadwal pada bayi dan balita, mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat, melakukan olahraga secara teratur, menjaga diet sehat, menghindari perilaku seksual berisiko pada remaja dan dewasa, serta menjaga sistem kekebalan tubuh dengan cara menjaga pola makan yang sehat, tidur yang cukup, dan mengelola stress dengan tepat pada lansia merupakan beberapa upaya dalam pencegahan penyakit menular pada masing-masing siklus kehidupan.

“Dengan memahami epidemiologi masing-masing penyakit menular, cara penyebaran dan penularannya, serta kelompok umur rentan yang diserang, maka kita dapat mengetahui intervensi yang harus dilakukan”. Katanya

Dirjen Kesmas, dr. Maria Endang Sumiwi, MPH, juga menyampaikan bahwa penyebab langsung dari masalah gizi adalah asupan makanan yang tidak memadai dan keberadaan ancaman penyakit menular yang berulang.

“Terdapat interelasi antara status gizi dengan penyakit menular, status gizi yang kurang atau buruk akan memudahkan terjadinya penularan penyakit menular, sedangkan penyakit  menular mengakibatkan status gizi menurun pada anak yang dapat menambah risiko terjadinya stunting”. Ujarnya

Dirjen Maxi berharap pertemuan ini dapat memberikan informasi praktis integrasi program Gizi-KIA dan P2PM, mendapatkan ide, inovasi, serta mengidentifikasi masalah dan bottle neck dalam melaksanakan integrasi  beserta  solusinya guna memperkuat upaya komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi  yang intensif  dalam menjawab tantangan di bidang GIZI-KIA dan P2PM. (Nda)

Berita Terkait lainnya >

Posting Terbaru >