Koordinasi Pilot Project Teknologi Wolbachia

Bandung 18/03/2024, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyaki Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu,DHSM,MARS menghadiri Pertemuan Koordinasi Pilot Project Teknologi Wolbachia Dengan Pemerintah Kota Bandung .yang di hadiri oleh Pj. Walikota Bandung, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Sekretaris Ditjen P2P, Direktur P2PM, Narasumber yang hadir : Prof Adi Utarini (UGM), Para Asisten Daerah dan Kepala OPD Kota Bandung. Serta Kepala BBLKM Jakart, Kepala BKK Bandung,

Dalam pertemuan ini maxi membahas Infeksi dengue yang sering kita kenal dengan DBD masih menjadi masalah Kesehatan di Indonesia karena beban penyakit yang cukup tinggi dan sering menimbulkan KLB serta kematian,karena Pada tahun 2022 Jumlah kumulatif kasus Dengue di Indonesia sebanyak 143.176 kasus terkonfirmasi DBD yang tersebar di 34 provinsi dan 1236 kematian di 27 provinsi. Dan pada tahun 2023 sebanyak 114.720 kasus dan 894 kematian. Tahun 2024 di Minggu ke-10 kasus DBD terlaporkan sebanyak 27.852 kasus dan kematian sebanyak 250 kematian. Kota Bandung merupakan kota dengan kasus dengue tertinggi di Indonesia (1.301 kasus) dan kematian yang cukup tinggi (7 kematian). Sehingga upaya Pengendalian Dengue sampai saat ini bertumpu pada kerjasama pemerintah dan masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat berupa kegiatan PSN 3M Plus melalui Gerakan Satu Rumah satu jumantik (GIRIJ), untuk Tantangan yang dihadapi dalam pengendalian dengue di Indonesia cukup berat, mengingat banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya infeksi dengue seperti iklim, kepadatan penduduk, prilaku masyarakat, komitmen bersama, dan laian-lain. Namun demikian kita akan terus berupaya agara pengendalian dengue ini bisa menurunkan kasus dengue ini dengan berbagai uapaya atau inovasi-inovasi yang baru.

Disampaikan juga bahwa Kementerian Kesehatan RI telah membuat Setrategi Nasional Penanggulangan Dengue Tahun 2021 – 2025 yang didalamnya ada 6 setrategi. Pada setrategi ke 6 berbunyi Pengembangan kajian, inovasi yang berbasis bukti dan salah satunya adalah implementasi nyamuk aedes ber Wolbachia. Universitas Gajah Mada, Yayasan Tahija dan Monesh University bekerja sama melakukan Inovasi Program Penanggulangan Dengue yang terbaru adalah teknologi nyamuk berWolbachia selama kurang lebih 10 tahun. Wolbachia adalah bakteri alami, simbion yang umum ditemukan di hewan arthropoda, dengan mekanisme menghambat replikasi virus dengue yang diperankan oleh Wolbachia. Hasil penelitian tersebut mampu menurunkan 77% incidence rate (IR) Dengue dan mengurangi masuk RS sebesar 86%.sehingga Kementerin Kesehatan RI telah mengadopsi teknologi Wolbachia ini dengan dengan mengeluarkan Kepmenkes Nomor 1341 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pilot Priject Teknologi Wolbachia di 5 kota yaitu Semarang, Bontang, Jakarta Barat, Kupang dan salah satunya adalah Bandung. Dan dalam pelaksanaan ini kami sudah menerbitkan buku pedoman petunjuk teknis implementasi Wolbachia, sekarang kami sedang susun buku saku implementasi Wolbachia yang akan dibagikan ke 5 Kota, untuk mewujudkan keberhasilan pilot project teknologi Wolbachia ini diperlukan komitmen kepala daerah dengan seluruh lintas sektor dan lintas program terkait agar pilot project bisa berjalan dengan baik dan bisa diterima oleh masyarakat, dan saya percaya pemerintah Kota Bandung memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan terlaksana pilot project ini.

Sehingga upaya implementasi ini perlunya adanya produksi telur nyamuk aedes ber- Wolbachia dan yang sekarang di prosuksi oleh UPT Kemenkes BLKL salatiga dan Insektarium Universitas Gajah Mada dan sedang berproses adalah Universitas Udayana Bali. Estimasi kebutuhan Telur nyamuk aedes berwolbachia di Kota Bandung yang memiliki kurang lebih 129 (km2) dengan total titik penitipan ember sebanyak kurang lebih sebanyak 20.782 titik dan kebutuhan telur untuk seluruh kota Bandung adalah sebanyak 5.410.000/minggu akan disesuaikan lagi dengan citra satelit untuk memastikan jumlahnya dan ketersediaan masyarakat menjadi orang tua asuh dalam mendukung terlaksananya Pilot Project Wolbachia di Kota Bandung, adapun dukungan Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal P2P menyiapkan bebeapa anggaran dan sarana prasana diantaranya : OJT Pelatihan dan Sosialisasi sebanyak 7 kali tahun 2022 s/d 2023 dan tahun 2024 kita siapkan 2 kali pelatihan di Kota Bandung dan asistensi langsung ke lapangan, Tenaga Koordinator Lapangan Kemenkes sebanyak 8 orang dari tahun 2023 dan 2024 untuk membantu tim Dinkes dilapangan, Telur nyamuk aedes ber- Wolbachia yang akan dikirim dari insektarium Universitas Gajah Mada atau B2P2VRP Salatiga,Ember Wolbachia sudah Ditjen P2P kirimkan ke Kota Bandung tahun 2023,Kemenkes memberikan menu dana BOK kegiatan Kader Wolbachia tahun anggaran 2024 di 4 Kota termasuk Kota Bandung, Monitoring Quality Assurance yang dilakukan BBLKM Jakarta,Identifikasi nyamuk aedes ber Wolbachia oleh BKK Kelas 1 Bandung, Telur Nyamuk Aedes ber Wolbachia oleh BLKL Salatiga dan Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Quality Control program akan dilakukan oleh Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Dan Monitoring program oleh tim Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Direktorat Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan. “Dengan dukungan Kemenkes berharap kepada Bapak Pj Walikota Bandung atau jajaran Pemerintah Bandung dapat mendukung dan menyiapkan pembiayan tenaga kader dan tambahan dana untuk sosialisasi di masyarakat yang dapat membantu keberhasilan implementasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengintensifkan pengendalian vektor nyamuk dan memanfaatkan pencegahan dengan inovatif nyamuk berwolbachia sebagai pelengkap program pencegahan Dengue agar dapat meningkatkan tujuan pemerintah Indonesia yaitu mewujudkan “ Indonesia Bebas Dengue”

Kementerian Kesehatan tidak menerima suap dan/atau gratifikasi dalam bentuk apapun. Jika terdapat potensi suap atau gratifikasi silahkan laporkan melalui HALO KEMENKES 1500567 dan https://wbs.kemkes.go.id

Berita Terkait lainnya >

Posting Terbaru >