HTBS 2024: Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis

Jakarta, 2 Mei 2024

Penyakit Tuberkulosis bukanlah penyakit baru. Penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis (MTb) ini telah muncul lebih dari 150 juta tahun yang lalu. Diperkirakan sekitar 3 juta tahun yang lalu, bakteri MTb telah menginfeksi hominid awal di Afrika Timur. Hingga pada tanggal 24 Maret 1882, Robert Koch mampu mengisolasi basil tuberkulosis dan mempresentasikan hasil temuan yang luar biasa kepada Perkumpulan Fisiologi di Berlin. Sehingga saat ini, setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari TBC Sedunia.

Di Tahun 2024, dengan mengusung tema global yang sama dengan tahun lalu Yes! We can End TB dan tema nasional “Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis”. Puncak Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) dilaksanakan d Pos Bloc Jakarta, pada (2/5/2024).

Diharapkan tema ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang permasalahan TBC melalui peningkatan peran serta semua pihak (pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi profesi, mitra, dan masyarakat) untuk penanggulangan TBC,  dan ajakan seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung penanggulangan TBC baik dalam pencegahan, penemuan kasus maupun dukungan pengobatan sampai sembuh. Demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS.

Mengacu pada Laporan TBC Global yang diterbitkan oleh WHO Tahun 2023, Indonesia menempati posisi kedua setelah India dengan kasus sebanyak 1.060.000 dan kematian sebanyak 134.000. Terdapat sekitar 15 orang yang meninggal akibat TBC setiap jamnya di Indonesia.

Berdasarkan data tahun 2023 (data final per 1 Maret 2024), notifikasi kasus TBC sekitar 821.200 kasus. Namun yang telah memulai minum obat TBC Sensitif Obat 88% dari target 100% dan yang memulai minum obat TBC Resistan Obat 73% dari target 90%. Artinya masih terdapat sejumlah orang yang terkonfirmasi TBC yang tidak memulai pengobatan dan dapat menularkan pada orang-orang di sekitarnya.

Dirjen Maxi mengungkapkan bahwa pencegahan TBC bisa dimulai dari diri sendiri dengan (1) Berperilaku hidup bersih dan sehat, (2) Memeriksakan  diri dan keluarganya ke Puskesmas jika mengalami batuk terus-menerus, (3) Memberikan dukungan pada anggota keluarga yang sedang menjalani pengobatan TBC, dan (4) Saling membagikan informasi yang tepat terkait TBC untuk menghilangkan stigma di masyarakat.

Sesuai dengan Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2021 yang menyebutkan bahwa untuk memperluas pemanfaatan layanan pencegahan dan pengobatan TBC yang bermutu, maka upaya kolaborasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat dapat dilakukan melalui penyebarluasan informasi yang tepat mengenai TBC ke masyarakat secara masif, melalui saluran komunikasi publik serta perubahan perilaku masyarakat dalam pencegahan dan pengobatan TBC.

“Maka dari itu hari ini, saya mengajak para pihak yang hadir sebagai penggerak perubahan di Indonesia. Mari kita berjuang bersama untuk eliminasi TBC dengan menyebarluaskan informasi yang tepat dan berjuang bersama dalam rangka Eliminasi TBC,”ujar Dirjen Maxi

Eliminasi TBC merupakan tanggung jawab kita bersama, sehingga dibutuhkan peran aktif dan dukungan dari semua pihak, termasuk dari seluruh lapisan masyarakat termasuk lingkungan sekolah/satuan pendidikan, perusahaan, serta sektor non kesehatan lainnya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dr. Imran Pambudi, MPHM dikesempatannya juga mengatakan TBC penting untuk dieliminasi karena (1) TBC merupakan penyakit kronis yang dapat menular dengan mudah, melalui udara yang berpotensi menyebar di lingkungan keluarga, tempat kerja, sekolah, dan tempat umum lainnya; (2) Pengobatan TBC merupakan hal yang yang tidak mudah, dengan adanya kemungkinan efek samping obat dan memerlukan waktu pengobatan yang tidak sebentar (minimal 6 bulan); dan (3) TBC yang tidak ditangani hingga tuntas menyebabkan resistansi obat (kebal obat).

Mengakhiri epidemi TBC menjadi salah satu target penting dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang harus dicapai bersama dengan tujuan lainnya oleh suatu negara untuk dapat sejahtera dan setara, ujar Direktur Imran.

Rangkaian kegiatan peringatan Hari TBC Sedunia (HTBS) Tahun 2024 telah dilakukan mulai bulan Maret hingga Mei 2024. Adapun kegiatan yang dilakukan diantaranya: (1) Webinar Series Gerakan Indonesia Akhiri TBC yang membahas mengenai Pengobatan BPaL/M, TBC Anak, TBC Sensitif Obat, Investigasi Kontak dan Terapi Pencegahan TBC, Penanggulangan Tuberkulosis di Tempat Kerja, Komunikasi dalam Eliminasi TBC, serta Kesehatan Mental dan TPT. Selain itu diselenggarakan juga (2) Lomba Kreatifitas dan Edukasi TBC yang melibatkan masyarakat umum, pemuda dan petugas kesehatan; (3) Nonton Bareng Bedah Film Pendek TBC; (4) Skrining dan penemuan kasus TBC aktif di beberapa wilayah; dan (5) Acara peringatan HTBS yang dilakukan serentak oleh seluruh Dinas Kesehatan, fasyankes dan berbagai pihak di daerah. Adapun pada kegiatan Puncak Peringatan HTBS 2024 ini dilakukan: (1) Pemberian penghargaan dan apresiasi kepada pemenang lomba dan apresiasi pada beberapa pihak terkait); (2) Talkshow Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis; (3) Pameran dan skrining TBC serta penyakit tidak menular; (4) Workshop melukis dan mewarnai “Harapan Eliminasi TBC” yang melibatkan masyarakat umum dan siswa sekolah; dan (5) Berbagai hiburan lainnya.(ADT)

Kementerian Kesehatan tidak menerima suap dan/atau gratifikasi dalam bentuk apapun. Jika terdapat potensi suap atau gratifikasi silahkan laporkan melalui HALO KEMENKES 1500567 dan https://wbs.kemkes.go.id

Berita Terkait lainnya >

Posting Terbaru >