Dirjen P2P Kunjungi Laboratorium Fakultas Kedokteran UNDIP Sebagai Salah Satu Calon Laboratorium Penempatan Mesin WGS

Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) merupakan satu dari 18 laboratorium terpilih yang mendapatkan distribusi mesin Whole Genome Sequenncing (WGS) sebagai kesiapan dalam penanganan kasus COVID-19 di Indonesia.

Untuk memastikan komitmen dari laboratorium terpilih dalam menyediakan sarana dan prasarana pendukung serta SDM yang dibutuhkan untuk operasional mesin WGS, maka pada (20/4) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM., MARS melakukan Kunjungan Kerjanya ke Laboratorium Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro Semarang dan diterima langsung oleh Wakil Rektor Sumberdaya UNDIP Prof. Dr. rer. nat. Heru Susanto, ST., M.M., M.T dan Dekan Fakultas Kedokteran UNDIP Dr. dr. Dwi Pudjonarko, M.Kes., Sp.S(K) beserta jajaran dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponogoro.

Adapun 18 Laboratorium terpilih untuk penempatan mesin WGS tersebut yang dibedakan berdasarkan jenis mesin yang diterima, diantaranya : a. Jenis mesin MinION pada 3 laboratorium diantaranya FK Universitas Sumatera Utara, FK Universitas Mulawarman Kalimantan Timur, FK Universitas Tanjung Pura Kalimantan Barat; b.Jenis mesin GridION pada 6 laboratorium diantaranya BTKL Batam, BTKL Ambon, BKPK Jakarta, SITH ITB, FK Universitas Diponegoro, FK Universitas Hasanudin Makasar; c. Jenis mesin Miseq pada 6 laboratorium diantaranya FK Universitas Andalas, B2P2VRP Salatiga, BBLK Makasar, RSUD Papua Barat, FK Universitas Sam Ratulangi, dan RSUD Johannes NTT; d. Jenis mesin Nextseq pada 2 laboratorium diantaranya BKPK dan RSUP Sanglah/FK Universitas Udayana; dan e. Jenis mesin Novaseq pada RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Saat ini tersedia dana hibah COVID-19 Response . Mechanisme (C19RM) yang bersumber dari Global Fund ATM 2021-2023 untuk pengadaan 17 unit mesin WGS. Selain itu juga ada tambahan dukungan dari US Chambers untuk pengadaan 1 unit mesin WGS.

Dirjen Maxi dikesempatannya mengatakan penempatan mesin WGS kepada laboratorium memperhatikan beberapa pertimbangan antara lain 1) Distribusi geografis, agar kemampuan penyelenggaraan surveilans genom Virus SARS-CoV-2 merata di seluruh Indonesia, 2) Perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan riset di universitas, serta 3) Menempatkan mesin WGS di pintu masuk wilayah indonesia, agar dapat lebih cepat mengidentifikasi kemukinan masuknya varian baru SARS-CoV-2 dari luar negeri.

Selain itu, kata Dirjen Maxi berdasarkan arahan dari Menteri Kesehatan, pemanfaatan WGS ini selain untuk penyelenggaraan surveilans genom Virus SARS-CoV-2, kedepannya juga dapat digunakan untuk: (1) surveillans penyakit menular berbasis genom seperti pada tuberkulosis, HIV/AIDS, arbovirosis dan penyakit menular lainnya; (2) inisiatif pengembangan bioteknologi; dan (3) mendukung penelitian.

Sebelumnya pada tanggal 24-26 Maret 2022, telah dilakukan On Site Visit penilaian teknis kesiapan laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro oleh tim teknis laboratorium WGS dan dapat disimpulkan bahwa dari sisi sarana prasana serta teknis laboratorium, laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dinilai siap dalam penempatan mesin WGS yang direncanakan distribusi pada akhir April 2022. (Adt/Ning)

Kementerian Kesehatan tidak menerima suap dan/atau gratifikasi dalam bentuk apapun. Jika terdapat potensi suap atau gratifikasi silahkan laporkan melalui HALO KEMENKES 1500567 dan https://wbs.kemkes.go.id

Berita Terkait lainnya >

Posting Terbaru >