Peluncuran Roadmap Eradikasi Schistosomiasis 2018 – 2025

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro meluncurkan Roadmap Eradikasi Schistosomiasis 2018 – 2025 dan menyerahkan peta jalan tersebut secara simbolis kepada perwakilan K/L dan pemerintah daerah, di kantor Bappenas, Jakarta (17/1). Pada kesempatan tersebut Gubernur Sulawesi Tengah Longki Janggola juga menegaskan komitmen Pemda Sulawesi Tengah terhadap Eradiksi Schistosomiasis.

Hadir dalam acara ini, Bupati Sigi dan Bupati Poso beserta jajaran pejabat pemerintah provinsi, kabupaten, dan pejabat eselon I,II dan perwakilan dari Kemenko PMK, Kemendagri, Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kemendes PDTT, Kemendagri, Kemenpar, Kementerian Kelautan dan Perikanan, TNI/POLRI, dan Kementerian ATR/BPN.

Peluncuran Roadmap Eradikasi Schistosomiasis 2018 -2025 ini dilaksanakan untuk meningkatkan komitmen seluruh pemangku kepentingan di tingkat Pusat maupun Daerah, guna mendukung upaya eradikasi Schistosomiasis di Indonesia. Pada Kesempatan tersebut Menkes menegaskan bahwa pencegahan dan pengendalian Schistosomiasis ini adalah program dan kegiatan rutin dilakukan di setiap sektor. “Hanya saja lokasi program dan kegiatan tersebut agar diprioritaskan dan dialokasikan pada 28 desa lokasi endemis serta dukungan kebijakan penggunaan Dana Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan, DAK, Dana Desa juga agar sejalan dengan upaya eradikasi ini,” ungkap Menkes.

Untuk menyediakan data dan informasi kemajuan hasil upaya terpadu ini, Kementerian Kesehatan bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah akan memfasilitasi pengembangan sistem data dan informasi yang real-time dan mudah diakses bagi semua pelaksana dan bagi pihak-pihak yang peduli dan terlibat.

“Mari kita bersama – sama agar Roadmap yang telah disusun ini menjadi bahan tindak lanjut bersama, melalui implementasi lintas sektor, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, mulai 2018 mendatang. Dan mari wujudkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak di Lembah Lindu, Napu, dan Bada di Sulawesi Tengah,” tegas Menkes.

Menteri PPN/Bappenas, Bambang Brodjonegoro menegaskan bahwa Eradikasi Schistosomiasis sejalan dengan komitmen pemerintah untuk melaksanakan Gol Nomor 3 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) yakni mewujudkan Kehidupan Sehat dan Sejahtera untuk mengakhiri penyakit tropis terabaikan. Kolaborasi dan sinergi lintas sektor juga kerja sama pusat dan daerah merupakan faktor kunci yang akan menentukan keberhasilan eradikasi Schistosomiasis. Beberapa strategi utama untuk mencapai eradikasi Schistosomiasis antara lain : a) pengobatan pada manusia; b) pengobatan pada hewan; c) manajemen pola penggembalaan ternak; d) pemberantasan keong secara kimiawi; e) penguatan sistem pengawasan; f) rekayasa lingkungan baik melalui pencetakan sawah, pengembangan agroforestry dan lainnya; g) Penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak; dan h) kampanye perubahan perilaku.

Secara umum, Roadmap Eradikasi Schistosomiasis tahun 2018 – 2025 berisikan strategi eradikasi, tahapan pelaksanaan eradikasi, penetapan sasaran dan target capaian, pemetaan program dan kegiatan lintas sektor, serta mekanisme pemantauan evaluasi untuk mengukur capaian. Selanjutnya, roadmap ini diharapkan dapat memandu arah program, kegiatan dan anggaran dari seluruh pemangku kepentingan terkait di tingkat pusat dan di tingkat daerah dalam menghasilkan sinergi upaya eradikasi Schistosomiasis yang didanai dari berbagai sumber pembiayaan baik APBN, APBD, dan transfer daerah (Dana Alokasi Khusus/DAK) maupun dana desa.

Schitosomiasis atau yang dikenal dengan demam keong adalah penyakit menular menahun yang menyerang manusia. Penyakit ini hanya ditemukan di provinsi Sulawesi Tengah yaitu di dataran tinggi Lindu, Napu dan Bada yang khusus disebabkan oleh Schistosoma Juponicum. Cacing ini hidup di pembuluh darah terutama kapiler darah dan vena kecil dekat selaput usus. Infeksi didaerah endemis ini sering terjadi anak usia sekolah, petani dan penangkap ikan. Pada anak yang terinfeksi penyakit ini dapat mengakibatkan kelainan pertumbuhan dan kelemahan kognitif. Sesungguhnya penyakit ini dapat dicegah melalui penemuan kasus, pengobatan massal, penggunaan jamban sehat serta ketersediaan air bersih.

Data tahun 2017 menunjukkan bahwa angka kejadian schistosomiasis pada manusia di tiga dataran tinggi, rata-rata berada pada kisaran 0.65 –0.97%. Namun pada keong perantara masih cukup tinggi yaitu 1.22– 10.53%, terlebih lagi angka kejadian schistosomiasis pada hewan ternak sangat tinggi dikisaran 5.56 – 40%.

Data-data ini menunjukkan bahwa yang jauh lebih banyak terinfeksi itu adalah hewan ternak dan keong perantara. Dengan kata lain, upaya eradikasi schistosomiasis harus focus pada upaya pengendalian agar hewan ternak dan keong perantara ini tidak terinfeksi, sehingga memutus rantai penularan schistosomiasis pada manusia.

Tingginya angka kejadian penyakit pada hewan ternak disebabkan pola penggembalaan bebas, yang kemudian terinfeksi serkaria melalui keong perantara yang tersebar di lahan-lahan yang tidak diurus akibat pola pertanian berpindah. Ketika hewan ternak ini terinfeksi, hampir tidak pernah dilakukan pengobatan, karena obatnya, yaitu praziquantel untuk hewan, sampai saat ini belum tersedia di Indonesia.