PENCARIAN
Kategori
WEBSITE TERKAIT
DOWNLOAD
Edaran
Aplikasi
e-library
Presentasi
Undangan
VIDEO KEGIATAN

21
FORUM

Jl. Percetakan Negara No. 29, Kotak Pos 223, Jakarta 10560 - Indonesia


Phone : 62214247608
Fax : 62214247807

BERITA - FOCUS TODAY

Bela Kampung Menuju Eliminasi Malaria dan Jaga Pintu Rumah Sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian HIV-AIDS di Provinsi Papua Barat
2017-08-10 07:01:34

Papua Barat merupakan salah satu Provinsi yang masuk kedalam kategori daerah dengan Epidemi HIV-AIDS meluas dengan prevalensi 2,3 %. Ini berarti bahwa kasus HIV-AIDS tidak hanya terkonsentrasi di populasi kunci seperti Pekerja Seks Komersil, Penasun, tetapi sudah meluas ke populasi umum. Saat ini Papua Barat menghadapi tantangan yang berat dalam pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS. Dimana promosi kondom yang di beberapa negara terbukti efektif memutus rantai penularan tidak sepenuhnya bisa diterima oleh masyarakat, sehingga dalam penanggulangannya diperlukan strategi-strategi inovasi yang bisa diterima masyarakat baik dari sisi agama, budaya maupun norma-norma sosial.

 

Selain itu, pada East Asia Summit tahun 2014, para kepala negara dan kepala pemerintah berkomitmen mencapai Eliminasi Malaria di kawasan Asia Pasific pada tahun 2030. Walaupun telah terjadi penurunan kasus malaria yang signifikan di Provinsi Papua Barat, dimana hasil survey SDKI tahun 2007 menunjukan dari 21% menjadi 6% di tahun 2014 tetapi masih sangat diperlukan upaya yang sangat keras dan inovatif untuk menuju percepatan eliminasi malaria dengan kasus  dibawah 1 per 1000 penduduk.

 

Untuk itu dalam mewujudkan cita-cita tersebut, diperlukan komitmen bersama dan terus menerus oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat mulai dari tingkat Kampung, Distrik, dan Kabupaten/Kota, sampai 90% kasus HIV-AIDS dapat di Temukan, di Obati dan di Pertahankan (TOP) serta Eliminasi Malaria dapat tercapai secara bersama pada tahun 2027.

 

Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, dalam sambutannya saat membuka Workshop Pencegahan dan Pengendalian HIV-AIDS dan Gerakan Percepatan Eliminasi Malaria di Papua Barat, pada (9/8) mengatakan berdasarkan data nasional untuk kasus malaria saat ini tinggal 4 (empat) provinsi yang angka kejadian malarianya masih tinggi (di atas 1 per 1000 penduduk) di Indonesia yaitu Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Sementara untuk kasus HIV, hanya 2 (dua) Provinsi di Indonesia yaitu Provinsi Papua dan Papua Barat, yang berdasarkan survey terpadu biologis dan perilaku tahun 2013, di kategorikan sebagai daerah dengan endemis meluas dengan prevalensi 2,3 %. Ini berarti bahwa setiap 100 penduduk di Tanah Papua diprediksi akan ada 2-3 penderita HIV. Angka prevalensi ini sangat tinggi dan masih sangat jauh dari target nasional yaitu 0,5% pada tahun 2019.

 

Pada tahun 2016, di Papua Barat terdapat 16.156 kasus Malaria di antaranya sebanyak 1035 kasus terjadi pada bayi, 3974 kasus pada balita dan ibu hamil sebanyak 97 kasus, selebihnya menyerang pada anak usia sekolah sebanyak 3.796 kasus dan 7.270 kasus pada orang dewasa. Kasus ini jauh lebih turun dibanding dengan tahun sebelumnya, dimana data tahun 2009 angka kasus malaria sebesar 85,1 per 1.000 penduduk menjadi 18,1 per 1.000 penduduk di tahun 2016.

 

“Banyak upaya yang telah kita lakukan, yaitu mulai dari peningkatan kualitas SDM Kesehatan, pemberian kelambu anti nyamuk secara massal, membentuk dan melatih kader. Oleh karena itu kita perlu strategi Akselerasi dan Komitmen Bersama dengan masyarakat untuk mengeliminasi malaria di tahun 2030 dari Papua Barat dan membebaskan malaria di provinsi Papua Barat paling lama tahun 2027”, ujar Dominggus

 

Lebih lanjut Dominggus meminta kepada seluruh Bupati dan Walikota untuk memulai upaya pemberantasan malaria dari Kampung ke Kampung sebagai salah satu strategi menuju Bebas Malaria di Provinsi Papua Barat dengan mengajak masyarakat kampung untuk berperan aktif membasmi parasit malaria yang ada dalam tubuhnya dengan minum obat anti malaria secara baik dan benar bila menderita sakit malaria, menghindari penularan dengan tidur menggunakan kelambu, dan mengendalikan populasi nyamuk sebagai vector penular malaria dengan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan masing-masing.

 

Sedangkan untuk HIV-AIDS, salah satu upaya memutus mata rantai penularan HIV-AIDS adalah dengan mensosialisasikan mencegah penularan dan pencegahan HIV-AIDS dengan 3 pendekatan, yakni tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah, setia pada satu pasangan, dan jika tidak setia pakailah kondom, lengkapnya

 

Di akhir sambutannya Dominggus turut serta mengajak segenap komponen masyarakat untuk dapat mengambil bagian dan berperan aktif dalam Gerakan “Bebas Malaria Kampung (Bela Kampung)”. Bela terus menerus kampung kita agar segera tercapai Bebas Malaria dan Gerakan “Jaga Pintu Rumah” yang mengandung makna bila keluar rumah beritahu akan kemana dan bila masuk rumah beritahu dari mana kepada keluarga yang anda Cintai sebagai upaya Pencegahan dan Pengendalian HIV-AIDS. Hal ini di tandai dengan penobatan Bela Kampung dan Jaga Pintu Rumah dengan penyematan topi kepada Kader dan Komponen Masyarakat oleh Gubernur Papua Barat dan Penandatangan Komitmen Bersama Gubernur, Walikota dan Bupati dalam pemberantasan Malaria dan Pencegahan dan Pengendalian HIV-AIDS.

 

 

Di kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. H. Mohamad Subuh, MPPM dalam presentasinya menyampaikan beberapa langkah yang
harus dilakukan dalam percepatan Eliminasi Malaria dan Pengendalian Penularan HIV-AIDS, antara lain pelaksanaan SPM plus Prioritas Daerah; komitmen dan kepemimpinan Gubernur dan Walikota/Bupati melalui penguatan Forum Lintas Sektor seperti KPA Provinsi dan Kabupaten/Kota serta Forum Gebrak Malaria; Mobilisasi dan optimalisasi semua Sumber Daya yang ada melalui integrasi dan kolaborasi termasuk penggunaan Anggaran yang ada; segera menyusun regulasi terkait sesuai dengan kearifan lokal; Prioritas alokasi anggaran Pemerintah Daerah; Menggerakan seluruh SKPD  sehingga menjadi intervensi multi sektor seperti alih lahan pertanian, pembuatan irigasi, pengendalian vektor nyamuk; Pemanfaatan dana desa dalam mendukung upaya percepatan; Penyediaan Sumber Daya Manusia melalui Nusantara Sehat; Integrasi Malaria dan HIV pada Program Kaki Telanjang sebagai upaya perluasan Akses Layanan.

 

Selain itu dr. Subuh mengatakan diperlukannya pendekatan keluarga yaitu tenaga kesehatan harus aktif mendatangi masyarakat dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dengan pola hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan dalam pemberantasan Malaria dan Pencegahan dan Pengendalian HIV AIDS.