PENCARIAN
Kategori
WEBSITE TERKAIT
DOWNLOAD
Edaran
Aplikasi
e-library
Presentasi
Undangan
VIDEO KEGIATAN

21
FORUM

Jl. Percetakan Negara No. 29, Kotak Pos 223, Jakarta 10560 - Indonesia


Phone : 62214247608
Fax : 62214247807

BERITA - BERITA TERBARU

Sosialisasi Gangguan Indera dan Fungsional di Pelabuhan dan Bandara
2017-09-12 16:19:14

Gangguan penglihatan dan kebutaan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat  di Negara kita.  Pemerintah bersama masyarakat sejak beberapa dasa-warsa telah melakukan berbagai upaya untuk pencegahan gangguan penglihatan dan kebutaan. Di masa lalu masalah gangguan penglihatan dan kebutaan banyak terkait dengan penyakit infeksi seperti trachoma dan kekurangan gizi utamanya defisiensi vitamin A yang telah berhasil dikendalikan.

 

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. H. Mohamad Subuh, MPPM dalam sambutannya saat membuka Sosialisasi Gangguan Indera dan Fungsional di Pelabuhan dan Bandara yang dilaksanakan, pada (8/9) di Merauke.

 

Menurut WHO (2010) Penyebab Gangguan Penglihatan yang dapat dilakukan upaya deteksi dini  adalah katarak dan gangguan refraksi. Penyebab kebutaan yang dapat dicegah adalah katarak dan glaukoma. Oleh karena itu, kata dr. Subuh penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan ditekankan pada upaya promotif dan preventif yang diperkuat dengan upaya kuratif dan rehabilitatif. Sejalan dengan pembangunan kesehatan di Indonesia yang menekankan pada upaya promotif-preventif dan  diperkuat dengan upaya kuratif-rehabilitatif dan sesuai amanat Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyatakan bahwa upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitativ yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan.

 

Data hasil Survei Kebutaan di Indonesia dengan metode Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) telah dilakukan pada  tahun 2014. Hasil survey ini menunjukkan bahwa pada masyarakat usia > 50 tahun di 3 Provinsi, yaitu : (1) Jawa Barat angka kebutaan adalah 2,8 %, (2) NTB 4,5 %, dan (3) Sulawesi Selatan 2,7 %. Sedangkan pada tahun 2015  di 4 Provinsi yaitu (1) DKI Jakarta dengan angka kebutaan 2,4 %, (2)  Jawa Tengah 2,8 %, (3) JawaTimur 4,5 %, dan (4) Bali 2,7 %.

 

Hasil survey RAAB di Indonesia tahun 2014 – 2015 di tujuh (7) provinsi tersebut  diketahui bahwa penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan adalah kelainan refraksi (10-15%) dan katarak (70-80%). Hal tersebut yang mendasari fokus program penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia pada penanggulangan katarak dan kelainan refraksi, disamping tetap melakukan upaya pada penyakit mata lainnya seperti glaukoma, ujar dr. Subuh

 

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan RI berkomitmen dalam mewujudkan Vision 2020: The Right to Sight- suatu visi  yang mewujudkan kondisi dimana setiap penduduk Indonesia mempunyai hak untuk dapat melihat secara optimal. Komitmen  ini dituangkan  dalam Rencana Aksi Nasional untuk Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan 2016 – 2020. Di samping itu, telah dibentuk Komite Mata Nasional untuk Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan

 

Saat ini, upaya Pemerintah dalam mengatasi permasalahan gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia dilakukan dengan mengutamakan  upaya promotif-preventif  melalui pendekatan, yaitu : (1) pengendalian faktor risiko, (2) kegiatan skrining atau deteksi dini gangguan penglihatan dan kebutaan pada kelompok berisiko, serta (3) penguatan akses masyarakat pada  layanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu.